Selasa, 22 Juni 2010

KEBUTUHAN SIMULATOR PADA PENDIDIKAN KEJURUAN MARITIM DI INDONESIA

oleh: Ika Sari Hartini - Staf Pengajar SMK Pelayaran Hang Tuah Kediri

Beban operasional kapal modern membutuhkan ABK diberi pelajaran lebih dari standar kemampuan teknik. Data statistic dari NTSB demikian juga beberapa organisasi internasional mencatat 75% sampai 80% dari kecelakaan di laut disebabkan faktor manusia. Kecelakaan kapal laut muncul sebagai kelemahan dalam faktor manusia atau kemampuan manusia dan kurangnya pengetahuan teknis.

Data faktor penyebab kecelakaan di Indonesia, sumber: Persakir Dephub.

Hal ini termasuk organisasi dan prosedur, teamwork, kesadaran akan situasi, komunikasi, managemen stess, kelelahan dan kepemimpinan. Kesadaran akan situasi merupakan persepsi yang akurat dari factor dan kondisi yang mempengaruhi kapal dan abk selama periode waktu tertentu. Sering hal ini diistilahkan sebagai mengetahui apa yang terjadi disekitar anda. Elemen dari sadar terhadap sekitar pada kamar mesin adalah mengetahui kapal, permesinan, dan system, mengetahui parameter operasi yang normal, waspada terhadap safety hazard, mengetahui kondisi ABK.

Salah satu perkembangan utama dalam konvensi beberapa organisasi maritim di dunia adalah konsep competency based training dimana peserta dibuktikan kompetensinya melalui peralatan yang paling sesuai. Simulator disebut beberapa kali, sebagai yang digunakan sebagai alat untuk training pelaut dan juga sebagai alat untuk membuktikan kompetensi peserta.

Bukti yang ada dari psikologi pendidikan menyarankan bahwa computer dapat mempunyai peran penting dalan mengembangkan kemampuan berpikir yang kritis dan kreatif. Roschelle(2001) telah menyakan bahwa teknologi computer telah mendukung perkembangan empat karakteristik pembelajaran yang efektif: hubungan aktif, partisipasi dalam kelompok, feedback dan interaksi yang berulang, dan hubungan yang langsung kepada konteks ilmu. Sebagai tambahan teori dalam psikologi pendidikan menyarankan bahwa simulasi meningkatkan pembelajaran dengan mendorong siswa untuk learning by doing. Siswa dapat belajar dengan baik ketika mereka membangun konsep baru dari pengetahuan yang ada sebelumnya(Bransfold, 2000, Williams,2000). Melalui pembangunan model dan manipulasi model, simulasi dan sintesa lingkungan mendukung dan menguji pembelajaran langsung.

Saat ini, perkembangan dalam bidang computer, teknologi informasi dan simulasi cukup bagus. Pendidikan dibidang maritime tidak tertutup dari perubahan tersebut dan sebaiknya mengambil keuntungan dari kondisi ini, terutama untuk peningkatan keselamatan kapal. Simulator mesin induk akan memungkinkan operasi situasi emergensi yang tidak mungkin diterapkan karena batasan keselamatan. Selama simulasi instruktur menerapkan beberapa kondisi awal dan scenario yang termasuk beberapa kesalahan operasional mesin induk.

Peningkatan teknologi informasi dan komputer telah menempatkan simulator mesin induk sebagai peralatan yang penting dalam pendidikan kepelautan bukti menunjukkan bahwa siswa yang dilatih dengan menggunakan simulator kamar mesin akan bertindak lebih logis dibandingkan yang tidak berlatih menggunakan simulator.

Tampilan interface simulator mesin penggerak utama

Untuk alasan ini, simulator kamar mesin merupakan asset yang sangat berharga untuk proses pembelajaran pada akademi maritime. Kamar mesin merupakan lingkungan permesinan dan peralatan yang kompleks. Juga perlu untuk memungkinkan untuk akses yang cepat dan mudah pada operasi dasar (buka tutup katup, setting posisi switches, dll). Aplikasi simulasi dalam pengajaran operasi dari permesinan yang kompleks akan memberikan pengertian yang lebih baik dari prinsip tentang fungsi peralatan dan system dibandingkan dengan metode pengajaran selama ini. Sebagai hasilnya siswa jauh lebih siap untuk berhubungan langsung dengan operasional permesinan dan akan meningkatkan standard dari keselamatan operasional kapal.


Daftar Pustaka
  1. Asghar Ali, “Simulator Instructor-SCTW Requirement and Reality “, Technical Paper World Maritime University Malmo, 2006
  2. Dwight G. Hutchinson, P.E.,“Engine Room Resource Management Using a Full Mission Simulator”, www.searchpdf.com/studies/marsim2000/silx/005.pdf
  3. Federation of American Scientist, “The Learning Federation Project”, Washington, 2003
  4. http://www.pcmaritime.co.uk/comm/news/td4aug.htm
  5. L. Tomczack, R. Cwilewicz, “Improvement of Ship Operational Safety as a Result of the Application of Virtual Reality Engine Room Simulators”, Marine Propulsion Plant Department, Gdynia Maritime University, Poland
  6. Persakhir Departemen Perhubungan 2007, www. Dephub.go.id

Mengenal FPSO

Pengeboran minyak lepas pantai pada era kini tidak selalu terkait dengan anjungan terpancang atau biasa diistilahkan dengan fixed platform, perkembangn anjungan telah menghasilkan bangunan apung yang digunakan untuk pengeboran minyak pada perairan sangat dalam.
Salah satu bangunan apung yang digunakan saat ini adalah FPSO, Floating, Production, Storage, and Offloading system. Sebuah bangunan apung yang berbentuk sebuah kapal, bisa bangunan baru atau hasil modifikasi dari kapal tangker. Fungsi FPSO ini adalah menerima, memproses, dan menyalurkan atau mengirim hasil olahan minyak bumi. FPSO secara permanen ditambatkan operasionalnya.
Ruang muat dari bangunan kapalnya ini digunakan sebagai penyimpan minyak yang diproduksi. Di atas bangunan apungnya ini dilengkapi dengan fasilitas-fasilitas pemroses (topside facilities) hidrokarbon dan akomodasi. Konfigurasi sistem tambatnya bisa berupa jenis tambat menyebar (spread mooring type) atau sistem tambat titik tunggal (single point mooring system). Tapi pada umumnya berbentuk sebuah turret.
Campuran fluida yang dihasilkan, yang bertekanan tinggi dikirim ke fasilitas pemrosesan yang berada di atas geladak kapalnya. Sedang minyak, gas dan air dipisahkan. Air dibuang ke luar kapal setelah diproses untuk menghilangkan hidrokarbonnya. Hasil minyak mentah yang sudah distabilkan disimpan dalam tangki-tangki muatnya dan secara berkala dipindahkan ke kapal tanker yang datang berkala (shuttle tanker) melalui sebuah buoy atau dengan cara merapatkan kapal tanker ke dekat FPSO secara langsung. Gas hasil produksi bisa digunakan kembali untuk meningkatkan produksi dengan teknik gas lift atau menghasilkan energi bagi keperluan di dalam FPSO itu sendiri. Sementara gas yang masih tersisa dibakar atau dimanfaatkan lagi dengan cara dikompres dan disalurkan ke daratan melalui sistem pipeline atau diinjeksikan lagi ke dalam reservoir.
FPSO Belanak di perairan Natuna

Sementara itu jenis FPSO sudah dioperasikan di ladang minyak dan gas Belanak, perairan Natuna Selatan. Hanya saja ini untuk perairan dangkal dengan kedalaman 89,94 m (295 ft). FPSO Belanak merupakan bangunan baru dengan panjang 285 m (935 ft) yang dibangun di Batam oleh P.T. McDermott Indonesia dan dirancang untuk memproses 500 juta kubik feet gas tiap hari guna keperluan eksport. Selain itu juga memproduksi minyak dan kondensat hingga 100.000 barel dan 24.140 barel LPG per hari. Tentu saja itu semua menorehkan sebuah harapan besar untuk makin berkembangnya industri Laut-dalam Indonesia, dengan pemain dan segenap sumber daya dalam negeri yang makin termanfaatkan.

Sumber:
Rudi Walujo Prastianto, www.beritaiptek.com
Design and Conversion of FPSO Mystras, T. Terpstra, IHC Gusto Engineering B.V.; G. Schouten, Single Buoy Moorings Inc.; L. Ursini, Saipem Energy International S.p.a.
http://www.jraymcdermott.com/projects/Belanak-FPSO__90.asp